BERCERMIN DARI KASUS MIRAS OPLOSAN

Potret Buram Masyarakat Kita

absolut vodkaAkhir-akhir ini berita tentang kasus keracunan sampai kematian akibat dari menenggak miras oplosan di media massa hampir menyaingi kasus Susno Duadji yang membongkar mafia kasus dalam tubuh institusinya (POLRI). Betapa tidak, kejadiannya begitu beruntun dengan korban meninggal yang tidak sedikit. Kalau Anda bertanya “kenapa korban pada kasus terakhir tidak mau belajar dari kasus sebelumnya?“, Anda patut bersyukur karena setidaknya rasio Anda masih mampu mengalahkan nafsu Anda untuk meraih nikmat sesaat.
Indikasi yang saya peroleh adalah bahwa beberapa kasus miras oplosan merupakan gambaran yang memprihatinkan dari masyarakat kita.

Beberapa gambar yang saya temukan antara lain:

Gambar Pertama: rendahnya keimanan. Sebagian besar warga negera Indonesia dan korban kasus miras oplosan itu beragama Islam. Agama Islam nyata sekali mengharamkan minuman keras, minuman beralkohol, racun, spiritus (ini bukan minuman, yang bisa diminum saja ada yang haram. Baca juga miras + spiritus=maut), apalagi minuman yang dicampur racun. Kenapa korban dalam kasus ini mau meminum racun. Jawabannya ada pada Gambar kedua.

Gambar Kedua : rendahnya tingkat pendidikan. Haruslah diakui bahwa rata-rata tingkat pendidikan masyarakat kita masih rendah. Kalau ada yang tidak mengakui pernyataanku ini, berarti mutu lulusan dari lembaga pendidikan kita yang tidak sesuai dengan jenjang pendidikan yang telah dilaluinya. Mutu pendidikan kita rendah. Pemahaman yang sangat kurang mengenai bahan kimia menjadi salah satu penyebab berkembangnya “trend” miras oplosan. Tidak perlu sekolah yang tinggi untuk bisa memahami bahwa minuman keras itu berbahaya, atau untuk memahami bahwa spiritus itu beracun. Kalau guru di sekolah berperan dengan benar dan siswa juga mau belajar sesuai dengan tugasnya, maka hanya diperlukan pendidikan formal setinggi SMP untuk memahami kedua hal tersebut di atas. Tidak perlu harus sarjana apalagi doktor.
Tolong dijawab oleh lembaga pendidikannya masing-masing : “kenapa ada tamatan STPDN (calon abdi masyarakat) dan siswa STPI Curug (calon penerbang) yang menjadi korban meninggal dari kasus miras oplosan?“. Saya percaya proses pendidikan di kedua lembaga pendidikan tersebut cukup baik, tetapi kenapa mereka mau mempertahankan siswa dengan indikasi peminum minuman keras. Dalam kasus serupa saya memuji SMA Negeri 1 Bau-Bau, SULTRA yang memberlakukan tata tertib bahwa siswa yang kedapatan meminum minuman keras langsung dikeluarkan dari sekolah. Terakhir kasus tanggal 4 Mei 2010, empat siswa kelas X yang dikeluarkan karena kasus tersebut.

Gambar Ketiga : rendahnya kesejahteraan. Tinjauan praktis dari saya adalah, jika memang korban-korban dari kasus miras oplosan ini memiliki banyak uang, mereka pasti akan memilih sampanye atau setidak-tidaknya memilih bir jika ingin prestise atau “enaknya” meminum minuman keras. Atau mereka memilih vodka untuk ingin menghangatkan badan jika akan melaut atau jika hendak ke puncak jaya (itu, yang ada salju abadinya). Harga sampanye, bir atau vodka, jauh berlipat-lipat dari harga spiritus yang seliter saja sudah bida membuat teler satu kampung. Gambar ketiga ini juga menjadi jawaban “Kenapa di beberapa daerah Intim miras cap tikus laris manis dan selalu diburu para “drunker”. Maaf di gambar ketiga ini, saya tidak bermaksud mengajari untuk meminum minuman keras.
Patut pula diakui bahwa di beberapa daerah di negara kita tercinta ini masih mempertahankan budaya meminum minuman keras. Penanganannya bisa menjadi lebih sulit dibanding ketiga gambar di atas, karena harus diperlukan keinginan bersama seluruh masyarakatnya untuk berubah.

Saya optimis bahwa ketiga gambar tersebut di atas dapat diatasi oleh kita sebagai suatu bangsa dalam masa beberapa tahun ke depan. Asal saja kita menyatukan kesadaran (jangan mabok) untuk meningkatkan keimanan, meningkatkan taraf pendidikan, untuk mencapai kesejahteraan supaya tidak terjebak pada tindakan-tindakan bodoh akibat kemiskinan. Ingat kemiskinan dekat dengan kekafiran. Mulailah dari diri sendiri dan keluarga. Mulailah dari wujuddin untuk mewujud’kan kulitas hidup yang lebih baik, dunia akhirat. Amin.

KISI-KISI ULANGAN UMUM SEMESTER GENAP 2009/2010

About wujuddin

Saya lahir di Kanakea, Maret 24, 1971 Pendidikan formal saya Kimia, tetapi sekarang lebih suka mengajar TIK.

Posted on Mei 13, 2010, in Ilmu Pengetahuan, Opini, Serba-Serbi and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. btul pak, seharusx khan tdk perlu polisi yang harus menangkap penjual miras oplosan tsb. baru warga mau berhenti, kalau saja ada kesadarandari diri sendiri, maka kejadian seperti ini dan banyak kejadian lain yang sesungguhX tdk pantas terjadi tidak akan terjadi lagi.

  2. benar sekali mas ….miras memang merusak masa depan anak-anak jaman sekarang….salam

  3. budi computer

    thanks atas infonya mas …salam kenal dari saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: