Budaya kita + Budaya orang lain

Reog Ponorogo

Reog Ponorogo

Negara kita adalah negara yang kaya khasana budaya daerah, tetapi kita tidak mungkin menolak budaya asing yang masuk ke negara kita dan berakulturasi dengan budaya asli kita sendiri. Yang penting bagi kita, terutama generasi muda adalah menyaring budaya mana yang dapat memperkaya budaya kita dan tidak bertentangan dengan norma-norma ketimuran yang kita anut. Dan yang tidak boleh dilupakan bahwa kita tetap mengakui dari sumber kebudayaan itu berasal. Jangan seperti Malingsia yang dengan bangga memamerkan dan mengiklankan budaya Indonesia dalam promosi pariwisatanya. Mulai dari keris, batik, angklung, reog ponorogo, lagu rasa sayange, sampai pada naskah kuno Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Bahkan mereka tidak malu, bahwa lagu kebangsaan yang mereka banga-banggakan memiliki kemiripan nada lagu Terang Bulan yang sudah sering dinyanyikan di Indonesia jauh sebelum Malingsialan merdeka.

Apa mereka tidak mau belajar dari kita, yang tetap mengakui bahwa budaya barongsai di Indonesia bukanlah budaya asli Indonesia.

Barongsai, 17-an di Kota Baubau, Sultra
Barongsai, 17-an di Kota Baubau, Sultra

About wujuddin

Saya lahir di Kanakea, Maret 24, 1971 Pendidikan formal saya Kimia, tetapi sekarang lebih suka mengajar TIK.

Posted on September 2, 2009, in Opini and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. jadi tertarik info malaysia juga nich pak guru??? ^_^
    kyaknya bagus di ulas di pelajaran tuh…. aplagi yg IPS… hehehehehe……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: