Real Count Prabowo Kalah, PKS Hentikan Publikasi


(Tulisan ini saya kutip secara utuh dari kompasiana.com, yang dimuat hari Senin, 14 Juli 2014 | 14:58 WIB)

URL tulisan lengkapnya : http://politik.kompasiana.com/2014/07/14/real-count-prabowo-kalah-pks-hentikan-publikasi-673980.html

Berikut tulisan selengkapnya:
Politikus Koalisi Merah Putih
Bandingkan tepuk tangannya Idrus Marham, Mahfud MD, Drajat Wibowo dan Fadli Zon.

Ketika ada sejumlah perbedaan antara hasil satu lembaga dengan lembaga lain dalam hitung cepat pilpres, kubu Prabowo dengan segera mempublikasikan hasil real count mereka. Harapannya agar masyarakat tahu lebih cepat dan lebih pasti siapa calon presiden terpilih.Itu dilakukan sehari setelah pilpres berlangsung dimana mereka mengantongi suara berlimpah.

Namun, sejalan dengan hasil quick count dari lembaga terpercaya seperti hitung cepat yang dilakukan Kompas, perjalanan perolehan suara Prabowo mandeg. Memang sih, sehari mereka dapat data dari Jawa Barat yang menjadi lumbung kemenangan Prabowo, sehingga mereka cukup pede untuk mempublikasikan hasil real count mereka.

Namun setelah banyak suara dari luar Jawa Barat masuk, real count mereka tampak memble. Suara mereka langsung seret alias tidak lebih baik dari angka yang sudah dikeluarkan lembaga-lembaga survei yang kredibel.

Ditambah ada himbauan dari KPI agar media tidak mengeluarkan hasil pilpres, maka PKS nebeng untuk merasa tidak malu menghentikan publikasi perhitungan perolehan suara real count mereka. Yup, Sekretaris Jenderal DPP Partai Keadilan Sejahtera Taufik Ridho mengatakan, partainya telah menghentikan publikasi real count data Pemilu Presiden 2014.

Kata kubu Prabowo, penghentian tersebut menyusul imbauan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang meminta lembaga penyiaran untuk menghentikan siaran quick count maupun real count. “Real count PKS sudah kami hentikan (penyiarannya). Kami kan taat aturan,” kata Taufik saat dihubungi Kompas.com, Minggu (13/7/2014). Yaa, padahal real count dihentikan karena perolehan angkanya tidak memadai untuk dibilang sebagai Presiden terpilih!

Hua ha ha ha, himbauan KPI itu untuk lembaga penyairan, bukan untuk peserta pemilu yang menghitung suara mereka secara real. Tapi karena hasilnya jeblog ya himbauan KPI tersebut dijadikanlah sebagai alasan untuk tidak lagi mengumumkan peroilehan suara mereka.

Nah itulah alasan PKS menghentikan pengumuman hasil perolehan suara yang didapat calon mereka, Prabowo-Hatta. Namun sesungguhnya, mereka malu karena jagoannya kalah setelah laporan dari banyak daerah masuk dan menyebutkan perolehan Prabowo kian minim.

Sesungguhnya mereka juga mau mencoba ngakali suara dengan merubah angka C1, namun semua relawan Jokowi melek dan tak mau kecolongan. Setiap ada gelagat dan indikasi ke arah kecurangan langsung dipublikasi sehingga hasilnya bener-bener laur biasa.

Peran media yang masih waras juga sangat penting. Kompas, Tempo, Detik dan media lain memberitakan semua kebenaran dalam pilpres.

Kini saatnya presiden rakyat siap memimpin negeri ini.***

Catatan Hormat saya buat Prof. Dr. Mahfud MD


wujuddin:

Tulisan ini saya blog ulang, karena saya juga mengagumi Bapak Mahfud MD berdasarkan rekam jejak selama beliau di Mahkamah Konstitusi.

Originally posted on Ferizal Ramli's Blog:

Buat Yth Pak Mahfud MD

Mahfud_MDSaya memang bukan siapa-siapa. Saya hanya penganggum anda dan nyaris saya “kehilangan” daya kritis terhadap anda karena kekaguman saya. Saya mungkin termasuk salah satu mahasiswa yang pertama yang membaca disertasi anda dulu sekali tentang UU Parpol produk ORBA. Sebuah disertasi amat tebal seingat saya 400 halaman, saya telaah semua karena begitu kaya ilmu dan indialisme yang menginspirasi saya. Itu terjadi tahun 1994-an. Saya penganggum anda Pak Mahfud sampai hari ini meskipun pilihan politik saya tidak sama dengan anda.

Sekarang ijinkan lah saya utarakan secara terbuka kekhawatiran saya atas nama baik anda. Pak Mahfud, Prabowo kalah itu realitas dan masalah waktu. Jika pun bapak ingin tunggu keputusan resmi KPU maka sebaiknya bapak menjaga jarak dengan lembaga-lembaga Quick Count tanpa kredibilitas apalagi kalau bapak sampai menjadi arsitek dari Quick Count yang tidak kredibel. Bapak nanti akan tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia sebagai tokoh yang tidak ksatria.

Jika memang…

View original 275 more words

Salah Strategi ala Sang Jenderal (Catatan tentang Strategi disinformasi Jenderal Prabowo)


wujuddin:

Menarik juga untuk menyimak tulisan ini, sehingga saya ingin memposting ulang pada Blog saya.

Originally posted on Ferizal Ramli's Blog:

Ada beberapa kitab Perang yang menarik yang ditulis oleh penulis-penulis filsuf besar seperti Miyamoto Musashi, Yamamoto Tsunetomo dan Sun Tsu meskipun mereka amat terkenal sebagai filsuf tapi juga sangat paham tentang strategi perang. Jadi mereka semua tercatat sebagai filsuf yang mencoretkan strategi bagaimana mengalahkan lawan dalam konflik, pertempuran maupun perang. Ada yang menarik dari para penulis tersebut adalah tentang strategi “disinformasi” untuk kalahkan lawan. Mereka sering sarankan tentang strategi kamuflase, atau strategi membingungkan lawan sehingga lawan ketakutan.

Gengis Khan adalah salah satu “Murid Perang yang Baik”, panglima besar sekaligus kaisar Mongol sering kali menggunakan strategi disinformasi untuk takuti lawan. Konon khabarnya tahu kekuatan pasukan kaveleri kudanya lebih sedikit, Gengis Khan pernah di tengah malam gulita menyalakan api besar2an dan membuat riuh dalam heningnya malam. Dalam kebingungan, musuh mengira bahwa perkemahan Gengis Khan itu diisi banyak pasukan yang besar yang jumlahnya massif tak terkira. Akibatnya, sang musuh segera mundur karena takut…

View original 848 more words

Idrus Marham yakin Prabowo dan koalisi permanen menang


(Tulisan ini saya kutip secara utuh dari merdeka.com, tulisan Reporter : Angga Yudha Pratomo | Senin, 14 Juli 2014 23:30)

URL tulisan asli selengkapnya http://www.merdeka.com/politik/idrus-marham-yakin-prabowo-dan-koalisi-permanen-menang.html

Berikut tulisan selengkapnya
Prabowo dan Koalisi Merah Putih

Merdeka.com – Wakil Ketua Bidang Penggalangan dan Kampanye tim pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Idrus Marham menyatakan pihaknya optimis menang dalam perhelatan Pilpres ini. Terlebih, pihaknya sudah buat deklarasi koalisi permanen.

Menurut Idrus, koalisi permanen yang dibentuknya kini sangat berbeda. Sebab, ini diisi rasa persaudaraan.

“Saya punya keyakinan ini beda. Ini betul-betul suasana persahabatan sangat kuat,” kata Idrus di Wisma Proklamasi, Jakarta, Senin (14/7).

Sekjen Partai Golkar itu menambahkan, dari tujuh partai koalisi ini sudah sama-sama bertekad membuat Indonesia bangkit. Maka itu, pihaknya optimis raih kekuasaan.

“Kontruksi berpikir berdasarkan ideologi yang sama, yang kata kuncinya adalah Indonesia bangkit, karena kekuasaan adalah mewujudkan cita-cita kita,” ujarnya.

Idrus menjelaskan, dalam pemerintahan koalisi Merah Putih nanti pihaknya akan memberikan kepada orang yang sesuai.

“Indonesia besar, sangat majemuk. Kalau dikelola bersama-sama, nanti diimplementasikan di dalam (pemerintahan). Nanti kita bagi-bagi peran, sesuai dasarnya kemampuan. Berdasarkan peran artinya tidak semua orang bisa. Bukan bagi-bagi kursi,” terangnya.

Ketika disindir apakah ada sanksi bila ada salah satu partai yang melanggar deklarasi permanen, Idrus tampaknya enggan menjawab. Namin, dia optimis koalisinya menang.

“Kita yakin menang, udah kita menang,” jawabnya.

Koalisi permanen ini diikuti Gerindra, PKS, PBB, PPP, PAN, Golkar. Tak nampak petinggi Demokrat selain Ketua DPD DKI Nachrowi Ramli.

15.30 WIB, Pimpinan Parpol Pendukung Prabowo-Hatta Tanda Tangani Koalisi Parlemen


(Tulisan ini saya kutip secara utuh dari kompas.com, yang dimuat hari Senin, 14 Juli 2014 | 11:05 WIB)

URL tulisan asli selengkapnya
http://nasional.kompas.com/read/2014/07/14/11055201/15.30.WIB.Pimpinan.Parpol.Pendukung.Prabowo-Hatta.Tanda.Tangani.Koalisi.Parlemen

Berikut Tulisan Selengkapnya:
wajah_wajah_politikus_koalisi_merah_putih
Bandingkan tepuk tangannya Idrus Marham, Mahfud MD, Drajat Wibowo dan Fadli Zon.

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekretaris Jenderal DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy mengatakan, Koalisi Merah Putih partai pendukung calon presiden-calon wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa akan diformalkan, Senin (14/7/2014), sebagai koalisi di parlemen periode 2014-2019.

“Menyusul disahkannya UU MD3 (susunan dan kedudukan MPR, DPR, DPD dan DPRD) pada 8 Juli pekan lalu, Koalisi Merah Putih (KMP) besok, 14 Juli, akan memformalisasi kesepakatan koalisi di parlemen dengan menandatangani kesepakatan kerja sama enam partai politik parlemen yang beranggotakan 353 kursi (63 persen) kursi parlemen 2014-2019,” kata Romahurmuziy alias Romy dalam siaran pers, Minggu (14/7/2014), seperti dikutip Antara.

Enam partai pendukung Koalisi Merah Putih di parlemen tersebut adalah Partai Gerindra, PPP, PAN, PKS, Partai Golkar, Partai Demokrat.

Ia mengungkapkan, kesepakatan akan ditandatangani langsung oleh masing-masing ketua umum parpol dan direncanakan di Tugu Proklamasi, Jakarta, pada pukul 15.30 WIB.

Dalam kesepakatan tersebut diatur hak, kewajiban, pelembagaan, dan mekanisme manajemen koalisi 5 tahun ke depan.

“Meskipun perubahan UU MD3 tidak meliputi komposisi pimpinan dewan dan AKD (alat kelengkapan dewan) DPRD provinsi dan kabupaten/kota, tidak tertutup kemungkinan Koalisi Merah Putih akan mengekstensi koalisi sampai tingkatan daerah,” katanya.

Ia menambahkan, PPP menegaskan akan berpartisipasi aktif dalam penandatanganan tersebut sekaligus meneguhkan eksistensi permanen Koalisi Merah Putih.

“Penandatanganan ini sekaligus sinyal bahwa berdasarkan gelombang data yang masuk ke dalam server quick real count di pusat tabulasi nasional Koalisi Merah Putih, pemenang Pilpres 2014 adalah pasangan Prabowo-Hatta. Karenanya, sinyalemen yang dilontarkan sejumlah pihak akan adanya perubahan peta koalisi adalah tidak berdasar,” katanya.

Pendiri PAN: Saya Yakin Dalam Hati Kecil Prabowo-Hatta Sudah Tahu Kalah


(Tulisan ini saya kutip secara utuh dari kompas.com, yang dimuat hari Minggu, 13 Juli 2014, 17.22 WIB)
URL tulisan asli selengkapnya http://nasional.kompas.com/read/2014/07/13/17220901/Pendiri.PAN.Saya.Yakin.Dalam.Hati.Kecil.Prabowo-Hatta.Sudah.Tahu.Kalah

Berikut Tulisan Selengkapnya

Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dari kubu koalisi Partai Gerakan Indonesia Raya, Prabowo Subianto – Hatta Rajasa memaparkan visi misi saat Debat Capres – Cawapres bertema Pembangunan Ekonomi, Pemerintahan Bersih dan Kepastian Hukum di Balai Serbini, Jakarta, Senin (9/6/2014) malam. Pemilu Presiden 2014 akan berlangsung 9 Juli 2014 mendatang.

JAKARTA, KOMPAS.com — Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN), Abdillah Toha, menyarankan agar Ketua Umum Hatta Rajasa yang maju sebagai calon wakil presiden bersama Prabowo Subianto untuk tidak ngotot atas kemenangannya.

Toha berharap, baik Hatta maupun Prabowo, bersikap gentle, seperti negarawan, sehingga tak menimbulkan potensi perpecahan bangsa Indonesia. Toha secara terbuka menyampaikan seruan ini dalam surat terbuka yang ditulisnya di Kompasiana. (Baca: Kirim Surat Terbuka, Pendiri PAN Kecewa Hatta Rajasa Percaya Survei “Abal-abal”)
URL http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/07/13/15595321/kirim.surat.terbuka.pendiri.pan.kecewa.hatta.rajasa.percaya.survei.abal-abal

“Saya sarankan, mereka melihat kenyataan saja. Saya yakin di dalam hati kecil, mereka sudah tahu mereka kalah. Sudahlah akui saja, jadi gentlement, jadi negarawan, kan delapan lembaga survei ini melakukan quick count tidak pernah salah,” ujar Toha saat dihubungi Kompas.com, Minggu (13/7/2014).

Menurut Toha, hasil hitung cepat dilakukan di hampir pemilu-pemilu dunia. Hasil hitung cepat itu, lanjut Toha, dilakukan untuk mengontrol jangan sampai terjadi kecurangan. Oleh karena itu, Toha mengaku menyesalkan sikap Hatta yang justru lebih percaya pada lembaga survei yang disebutnya “abal-abal”.

“Jadi, maksud saya, ngotot untuk apa? Jangan kemudian nanti menimbulkan kesan, kalau ada-apa. Bersikaplah negarawan. Menunggu hasil KPU boleh, tapi terimalah hasil quick count lembaga yang profesional. Tenangkanlah pendukung di bawah,” ujarnya.

Toha menganggap sikap Hatta sangat berpengaruh kepada partai. Apabila Hatta dengan jiwa besar menerima kekalahan, Toha mengaku PAN akan dianggap partai yang berakal sehat.

“Tapi, kalau partai ikut-ikutan ngotot suatu hal tidak benar, hanya untuk mencari kemenangan dengan segala cara, PAN bisa saja ditinggal kader-kadernya,” kata dia.

Seperti diketahui, pasca-pemungutan suara 9 Juli ini, sejumlah lembaga survei mengadakan hitung cepat. Namun, hasil hitung cepat ini ternyata berbeda-beda. Setidaknya ada 7 lembaga survei yang memprediksi Jokowi-JK menang, di antaranya Cyrus Network-CSIS, Lingkaran Survei Indonesia, Litbang Kompas, Populi Center, dan Indikator Politik.

Sementara itu, empat lembaga survei memprediksi Prabowo-Hatta menang, yakni Jaringan Survei Indonesia (JSI), Lembaga Survei Nusantara (LSN), IRC, dan Puskaptis.

Dengan hasil itu, masing-masing kubu pun mengklaim kemenangan. Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri sudah mendeklarasikan kemenangan bagi kubu Jokowi-JK.

Di sisi lain, Prabowo sujud syukur dan berterima kasih kepada rakyat Indonesia yang sudah memilihnya sebagai presiden Indonesia selanjutnya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung mengumpulkan setiap kandidat capres dan cawapres di kediamannya pada Kamis malam lalu agar kedua kubu dari pasangan itu bisa menahan diri.

SBY pun sudah menginstruksikan jajaran TNI untuk siaga dalam level tertinggi dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya konflik horizontal.

Baca juga:
“Banyak Spanduk Ucapan Selamat, Apa Sudah Ada Pengumuman KPU, Bu?”

Ikrar: Niat Koalisi Merah Putih Jahat untuk Menjegal Pemerintahan Jokowi-JK


(Tulisan ini saya kutip secara utuh dari kompas.com, yang dimuat hari Senin, 14 Juli 2014 Jam 11.34 WIB)

URL tulisan lengkapnya http://nasional.kompas.com/read/2014/07/14/11343281/Ikrar.Niat.Koalisi.Merah.Putih.Jahat.untuk.Menjegal.Pemerintahan.Jokowi-JK http://nasional.kompas.com/read/2014/07/14/11343281/Ikrar.Niat.Koalisi.Merah.Putih.Jahat.untuk.Menjegal.Pemerintahan.Jokowi-JK

Berikut Tulisan selengkapnya
Pasangan bakal capres dan cawapres, Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa, bersama para pimpinan partai politik pendukungnya, usai mendaftarkan diri menjadi pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden untuk Pemilu Presiden 2014, di Kantor KPU, Jakarta Pusat, Selasa (20/5/2014).
Pasangan bakal capres dan cawapres, Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa, bersama para pimpinan partai politik pendukungnya, usai mendaftarkan diri menjadi pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden untuk Pemilu Presiden 2014, di Kantor KPU, Jakarta Pusat, Selasa (20/5/2014).
JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ikrar Nusa Bakti, menyayangkan rencana Koalisi Merah Putih yang akan membangun koalisi permanen. Menurut Ikrar, motivasi partai politik dalam koalisi tersebut jahat karena hanya ingin menjegal pemerintahan selanjutnya.

Ikrar menjelaskan, Koalisi Merah Putih mulai menunjukkan niat buruknya saat bersatu dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3). Hasilnya, UU tersebut disahkan dan posisi Ketua DPR menjadi tak otomatis milik partai pemenang pemilu, dalam hal ini PDI Perjuangan.

“Niatnya memang sudah jelek banget, jahat. Mereka berkoalisi menjegal PDI-P agar tak jadi ketua DPR,” kata Ikrar, saat dihubungi, Senin (14/7/2014).

Setelah itu, kata Ikrar, kini Koalisi Merah Putih berniat menandatangani nota kesepakatan untuk mempermanenkan koalisinya. Jika koalisi permanen itu jadi terbentuk, maka presentasenya di parlemen akan mendominasi. (Baca: 15.30 WIB, Pimpinan Parpol Pendukung Prabowo-Hatta Tanda Tangani Koalisi Parlemen)

Koalisi Merah Putih berisi enam parpol yang lolos ke DPR 2014-2019, yakni Partai Gerindra (11,81 persen, 73 kursi DPR), Partai Golkar (14,75 persen, 91 kursi DPR), Partai Amanat Nasional (7,59 persen, 49 kursi DPR), Partai Persatuan Pembangunan (6,53 persen, 39 kursi DPR), Partai Keadilan Sejahtera (6,79 persen, 40 kursi DPR), dan Partai Demokrat (10,19 persen, 61 kursi DPR). Jika dijumlah, maka pasangan tersebut memperoleh dukungan 353 kursi DPR.

Sebaliknya, koalisi pendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla “hanya” diisi empat parpol yang lolos ke DPR 2014-2019, yakni PDI Perjuangan (18,95 persen suara pemilu legislatif, 109 kursi DPR), Partai Nasdem (6,72 persen, 35 kursi DPR), Partai Kebangkitan Bangsa (9,04 persen, 47 kursi DPR), dan Partai Hanura (5,26 persen, 16 kursi DPR). Jika dijumlah, maka pasangan tersebut memperoleh dukungan 39,97 persen suara atau 207 kursi DPR.

“Niat Koalisi Merah Putih memang hanya untuk menjegal supaya Jokowi-JK tidak bisa menjalankan pemerintahannya. Itu menunjukkan bahwa orang yang ada di koalisi itu otaknya jahat semua,” ujarnya.

Meski demikian, Ikrar masih meragukan bahwa Koalisi Merah Putih akan dipermanenkan. Alasannya karena derasnya penolakan dari internal Golkar yang justru meminta Golkar mendukung pemerintahan Jokowi-JK jika memenangi pilpres nanti.

“Apakah Golkar akan manut? Sampai sekarang di internalnya masih ‘berbalas pantun’,” pungkas Ikrar.